OUTCOME DAN RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA AKIBAT BAKTERI METHICILLIN RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS (MRSA) DI RSUDZA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

   

OUTCOME DAN RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA AKIBAT BAKTERI METHICILLIN RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS (MRSA) DI RSUDZA BANDA ACEH


Pengarang

SATRYA DITA ALQORNY - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1607101010096

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran / Pendidikan Dokter (S1) / PDDIKTI : 11201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2021

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Salah satu bakteri penyebab pneumonia adalah S. aureus. Pada beberapa kasus telah ditemukan strain S. aureus yang resisten terhadap antibiotik seperti Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat telah memicu resistensi bakteri. Hal ini menyebabkan penanganan penyakit infeksi menjadi sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia yang disebabkan oleh S.aureus yang dirawat inap pada salah satu rumah sakit di Aceh periode Januari hingga Juni 2019. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data dari rekam medik. Kualitas penggunaan antibiotik dinilai dengan menggunakan alur metode Gyssens. Sampel diambil dengan teknik total sampling yaitu semua pasien yang didiagnosa pneumonia dengan hasil kultur sputum terisolasi bakteri S. aureus. Hasil penelitian diperoleh jumlah pasien pneumonia yang disebabkan S. aureus sebanyak 38 orang. Hasil evaluasi kualitas penggunaan antibiotik diperoleh penggunaan antibiotik yang rasional (kategori Gyssens 0) hanya 2 (4,16%) pasien, sementara kategori penggunaan antibiotik terbanyak adalah IV A (ada antibiotik lain yang lebih efektif) yaitu sebanyak 30 (62,5%) pasien. Semua pasien yang masuk dalam katagori ini mendapatkan ceftriaxone, sementara itu berdasarkan panduan klinik dari Bagian Pulmonologi, pemberian antibiotik empiris untuk pneumonia adalah levofloksasin. Selanjutnya diperoleh 8 (16,6%) pasien pada kategori IV D (ada antibiotik lain dengan spektrum yang lebih sempit), sedangkan kategori V (tidak ada indikasi pemberian antibiotik) dan kategori VI (data tidak lengkap) masing-masing diperoleh pada 3 (6,25%) pasien, kategori III B (pemberian antibiotik terlalu singkat) dan kategori IV C (ada antibiotik lain yang lebih murah) masing-masing diperoleh pada 1 (2,08%) pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyak penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada pasien pneumonia khususnya yang disebabkan S.aureus. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan penggunaan antibiotik yang rasional secara berkesinambungan.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK