//

ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN HUTAN PINUS (PINUS MERKUSII) MENJADI KEBUN SERAI WANGI (CYMBOPOGON NARDUS) (STUDI KASUS: KAMPUNG SEKUELEN, KAMPUNG PENOSAN, DAN KAMPUNG PEPARIK GAIB KECAMATAN BLANGJERANGO KABUPATEN GAYO LUES)

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang M. ICHWANUL AFGAN HTS - Personal Name

Abstrak/Catatan

M. Ichwanul Afgan HST. 1505150020032. Analisis Perubahan Tutupan Lahan Hutan Pinus (Pinus merkusii) Menjadi Kebun Serai Wangi (Cymbopogon nardus) (Studi Kasus: Kampung Sekuelen, Kampung Penosan, dan Kampung Peparik Gaib Kecamatan Blangjerango Kabupaten Gayo Lues). di bawah bimbingan Martunis sebagai ketua dan Ryan Moulana sebagai anggota. RINGKASAN Hutan merupakan sumber daya alam yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya terutama masyarakat sekitar hutan. Alih fungsi kawasan hutan yang terjadi di Kabupaten Gayo Lues menyebabkan luas kawasan hutan pada tahun 2018 hanya 480.653 Ha, jumlah ini jauh menurun dibandingkan pada tahun 2009 yaitu 554.984 Ha. Diduga pembukaan lahan Serai Wangi (Cymbopogon nardus) menjadi penyebab utama menurunnya luas kawasan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang menjadi faktor perubahan tutupan lahan Hutan Pinus (Pinus merkusii) menjadi Kebun Serai Wangi (Cymbopogon nardus) di Kabupaten Gayo Lues. Penelitian dilakukan dengan menyebar kuesioner yang menggunakan sistem penilaian Skala Likert yang telah dimodifikasi menjadi 4 pilihan jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif dan metode uji korelasi Rank Spearman antara Perubahan Tutupan Kawasan Hutan Pinus dengan faktor perubahan yang terdiri dari, faktor ekonomis, faktor teknis, dan faktor sosial. Berdasarkan analisis yang dilakukan secara deskriptif, faktor penyebab perubahan lahan Hutan Pinus menjadi Kebun Serai Wangi di Kabupaten Gayo Lues adalah faktor teknis (37.8%), faktor ekonomis (36.7%), dan faktor sosial (25.1%). Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan metode uji korelasi Rank Spearman, hubungan korelasi faktor teknis dengan jenis pekerjaan memiliki nilai korelasi yang paling tinggi dengan nilai Sig (2-tailed) 1% (0.00) dengan nilai koefisien korelasi 0.524**, diikuti oleh hubungan korelasi antara faktor ekonomis dengan jenis pekerjaan responden dengan nilai Sig. (2-tailed) 1% (0.01) dengan nilai koefisien korelasi 0.473**, dan hubungan korelasi antara faktor teknis dengan status lahan responden dengan nilai Sig. (2-tailed) 1% (0.000) dengan nilai koefisien korelasi 0.409**.

Tempat Terbit
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

PEMETAAN SEBARAN HUTAN PINUS EKSISTING BERDASARKAN POLA RUANG DAN ARAHAN FUNGSI KAWASAN DI KECAMATAN BLANGJERANGO KABUPATEN GAYO LUES (Reza Febri Pramanta, 2019)

INVENTARISASI PALEM DI KAMPUNG PENOSAN SEPAKAT KECAMATAN BLANGJERANGO KABUPATEN GAYO LUES (Burhanuddin, 2013)

PERANAN PERANGKAT KAMPUNG DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN KAMPUNG (SUATU PENELITIAN DI KECAMATAN BLANGJERANGO KABUPATEN GAYO LUES) (KASMAWATI, 2018)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PETANI SERAI WANGI (CYMBOPOGON NARDUS. L) DI KABUPATEN GAYO LUES (Nova Yulini, 2020)

ANALISIS OPTIMALISASI AGROFORESTRI SERE WANGI DENGAN PINUS DI KABUPATEN GAYO LUES (Mhd. Safri Fitrah, 2019)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy