//

MEWUJUDKAN FUNGSI LEMBAGA WALI NANGGROE DALAM PENYELENGGARAAN OTONOMI KHUSUS ACEH

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang MUHAMMAD IQBAL - Personal Name

Abstrak/Catatan

MEWUJUDKAN FUNGSI LEMBAGA WALI NANGGROE DALAM PENYELENGGARAAN OTONOMI KHUSUS ACEH Muhammad Iqbal * Husni ** Iskandar A Gani *** ABSTRAK Aceh sebagai daerah khusus dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 18B sebagai bentuk pengakuan negara terhadap daerah yang memiliki kekhususan. Perjalanan panjang pergolakan politik dan konflik kekerasan di Aceh akibat ketidakpercayaan dan kegagalan imajinasi dalam proses statebuilding (pembangunan bangsa) antara Pemerintah Pusat dengan Aceh sejak kemerdekaan Indonesia hingga berakhir di meja perundingan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia (RI) dalam bentuk Memorandum of Understanding (Nota Kesepahaman). Keberadaan Lembaga Wali Nanggroe (LWN) dalam pernjanjian tersebut, kemudian dijabarkan ke dalam Pasal 96 dan 97 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2012 tentang Lembaga Wali Nanggroe dan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2013 tentang Lembaga Wali Nanggroe sebagai dasar hukum LWN. LWN merupakan kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat dibawah kepemimpinan Wali Nanggroe yang independen, berwibawa, dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan masyarakat adat Aceh. Masalah pokok dalam penelitian ini adalah apakah keberadaan LWN telah sesuai dengan konsep otonomi khusus Aceh, serta bagaimanakah keterlibatan LWN dalam penyelenggaraan Pemerintahan Aceh selama ini dan bagaimanakah kedudukan Lembaga Wali Nanggroe yang diharapkan dalam penyelenggaraan otonomi khusus Aceh kedepan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis keberadaan LWN yang semestinya berdasarkan penyelenggaraan otonomi khusus dan efektifitas kedudukannya selama ini, sejauhmana hubungan ikut serta LWN dalam penyelenggaraan pemerintahan Aceh selama ini dan konsep seperti apa kedudukan LWN kedepannya yang ideal. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, dilakukan dengan maksud memperoleh data sekunder. Spesifikasi penelitian ini adalah preskriptif analitis. Penelitian ini juga dilakukan dengan pendekatan yuridis empiris. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelaahan data yang dapat diperoleh dalam peraturan perundang-undangan, buku teks, jurnal, hasil penelitian dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Kemudian dilakukan penelitian langsung di lapangan melalui wawancara langsung dengan responden dan narasumber untuk memperkuat penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan kedudukan LWN sejak dibentuk sampai saat ini tidak mencerminkan azas efektifitas. Struktur kelembagaan yang terlalu besar dan tidak sebanding dengan tugas dan fungsi yang dimilikinya, sehingga hanya menghabiskan anggaran yang besar. Keterpihakan Wali Nanggroe dalam politik kelompok tertentu membuat Wali Nanggroe kehilangan kepercayaan masyarakat Aceh pada lembaga khusus tersebut, selaku pemersatu masyarakat adat Aceh. LWN belum mampu memberi pengaruh terhadap penyelenggaraan Pemeritahan di Aceh, rentetan kegaduhan antara Pemerintah Aceh dengan DPRA dan lainnya, Wali Nanggroe tidak mampu mengambil peran netralitasnya selaku pemersatu tatanan kehidupan di Aceh. Ketidakharmonisan hubungan LWN dengan Katibul Wali selama ini, membuat LWN tidak mampu mewujudkan tugas dan fungsinya. Disarakan kepada DPRA untuk segera melakukan perubahan terhadap Qanun LWN, terutama terkait substansi organ kelembaagaannya. Perampingan organ dan memperkuat posisi Wali Nanggroe sebagai personal independen, sehingga Wali Nanggroe lebih bertumpu pada kharisma dan ketokohan sebagai “Ureung Tuha” yang harus diperankan, dibandingkan dengan struktur yang lebar dan banyak dalam LWN. Kedudukan hubungan Katibul Wali dengan LWN harus dipertegaskan dalam satu wadah hukum, supaya ada penyelarasan dalam mewujudkan program LWN. Kata Kunci : Fungsi, Indepedensi, Lembaga Wali Nanggroe   ACTUALIZING THE FUNCTIONS OF WALI NANGGROE INSTITUTION IN THE IMPLEMENTATION OF SPECIAL AUTONOMY Muhammad Iqbal * Husni ** Iskandar A Gani *** ABSTRACT Aceh as a special region in the Unitary State of the Republic of Indonesia. Article 18B is a form of state recognition of regions that have specificities. The long journey of political and violent conflict upheaval in Aceh due to distrust and failure of imagination in the process of statebuilding between the Central Government and Aceh since Indonesian independence ended at the negotiating table between the Free Aceh Movement (GAM) and the Republic of Indonesia (RI) in the form of a Memorandum of Understanding . The existence of the Wali NanggroeInstitution (WNI) in the agreement was then elaborated intoArticle 96 and 97 of Constitution Number 11 of 2006 concerning Aceh Government, Aceh Qanun (Constitution) Number 8 of 2012 concerning Wali Nanggroe Institutionand Aceh Qanun Number 9 of 2013 concerning Amendments to Aceh Qanun Number 8 of 2013 concerning Wali Nanggroe Institution as the legal basis for itself. Wali Nanggroe Institutionis a custom/traditional leadership as a unifying community under the leadership of Wali Nanggroe who is independent, authoritative, and has the authority to foster and oversee the implementation of the life of the indigenous people of Aceh. The main problems in this research are whether the existence of Wali Nanggroe Institution is in accordance with the concept of Aceh's special autonomy and how is the position of the Wali Nanggroe Institutionexpected to be in the future implementation of Aceh's special autonomy. This study aims to find out and analyze the existence of the Wali Nanggroe Institution that should be based on the implementation of special autonomy and the effectiveness of its position so far, to what extent is the WNI participation in the administration of Aceh so far and what is ideal concept of the WNI position will be in the future. This research is a normative juridical research, carried out with the intention of obtaining secondary data. The specification of this research is analytical prescriptive . This research was also conducted with an empirical juridical approach. Data collection techniques were employed through a review of data that can be obtained in legislation, textbooks, journals, research results, etc related to this research. Then conducted direct research in the field through direct interviews with respondents and informants to strengthen this research. The results showed the position of the Wali Nanggroe Institution does not reflect the principle of effectiveness since it has been formed until now. The institutional structure is too large and not comparable with itstasks and functions, so that it only consumes a large budget. Wali Nanggroe's partiality in the politics towards certain groups has caused Wali Nanggroe loses the trust of the Acehnese people in this particular institution as a unifier of the indigenous people of Aceh. The WNI has not been able to influence the implementation of the Government in Aceh, the series of upheaval between the Government of Aceh and the Aceh House of Representatives (DPRA) and others, Wali Nanggroe was unable to take on the role of neutrality as a unifier of life in Aceh. The disharmony relationship between WNI and Katibul Wali has made WNI unable to realize its duties and functions. The Aceh House of Representatives (DPRA) should have immediately made changes to the WNI Constitution, especially related to the organ substances of its institution. Organ streamlining and strengthening the position of Wali Nanggroe as an independent person, so that Wali Nanggroe relies more on charisma and character as " Ureung Tuha " that must be portrayed, compared to the wide and numerous structures in the WNI. The relationship position of Katibul Wali and the WNI must be affirmed in one legal forum, so that there is alignment in realizing the WNI programs. Keywords: Function, Independence, Wali Nanggroe Institution

Tempat Terbit
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

PERSEPSI TOKOH ADAT KOTA SUBULUSSALAM TERHADAP PEMBENTUKAN LEMBAGA WALI NANGGROE (ahmad afandi sambo, 2015)

HUBUNGAN LEMBAGA WALI NANGGROE DAN MAJELIS RAKYAT PAPUA DENGAN PEMERINTAH DAERAH (STUDI PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG OTONOMI KHUSUS) (Muhammad Iqbal, 2016)

MEWUJUDKAN FUNGSI LEMBAGA WALI NANGGROE DALAM PENYELENGGARAAN OTONOMI KHUSUS ACEH (MUHAMMAD IQBAL, 2020)

PRO DAN KONTRA LEMBAGA WALI NANGGROE DALAM PERSPEKTIF TOKOH MASYARAKAT DI KABUPATEN ACEH TENGAH (Rahmadsyah, 2016)

FUNGSI DAN WEWENANG TUHA PEUET DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA (STUDI KASUS DI DESA UJONG KAREUNG KECAMATAN SUKAJAYA KOTA SABANG) (salamun, 2013)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy