ANALISIS BANJIR BANDANG DI DAERAH ALIRAN SUNGAI ( DAS ) BARO | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

ANALISIS BANJIR BANDANG DI DAERAH ALIRAN SUNGAI ( DAS ) BARO


Pengarang

TEUKU SUFRIADI RAMADHANI - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1509200140023

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Ilmu Kebencanaan (S2) / PDDIKTI : 61104

Penerbit

Banda Aceh : Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala., 2018

Bahasa

Indonesia

No Classification

363.349 3

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Dalam sejarah kejadian Banjir Bandang di DAS Baro, di Sub DAS Krueng
Beungga yang berada dihulu pernah mengalami empat kali Banjir Bandang yaitu
pada tahun 1976, 1990, 2011, dan terakhir di tahun 2016. Desa yang berdampak
banjir bandang berada di Desa Beungga, Desa Pulo Iee, Desa Lhok Ketapang,
Desa Alue Calong, Desa Krueng Seukek dan Desa Blang Malo. Tujuan dalam
penelitian ini adalah menentukan luas, nilai kerugian dan upaya mitigasi untuk
pengurangan risiko bencana. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah
Metode Kuantitatif dengan melakukan observasi dan wawancara terstruktur
dengan 20 orang Aparat Desa dan 70 orang masyarakat. Data yang digunakan
adalah data primer dan data sekunder dengan hasil akhir pemetaan menggunakan
Sistem Informasi Geografis. Berdasarakan hasil analisis peta luas dan rumah yang
berdampak pada empat periode tersebut adalah tahun 1976 luas 742 Ha, 80 rumah
berdampak, tahun 1990 luas 205 Ha, 20 rumah berdampak, tahun 2011 luas 223
Ha, 8 rumah yang berdampak dan tahun 2016 luas 75 Ha, 19 rumah yang
berdampak. Total kerugian dari ke empat periode Banjir Bandang tersebut sesuai
kurs rupiah tahun 2018 adalah Rp.575.000.000. Upaya-upaya Mitigasi Struktural
yang dilakukan perlu adanya reboisasi peremajaan hutan kembali di kawasan
Hulu Sub DAS Beungga. Mitigasi Non Struktural perlu adanya kapasitas kearifan
masyarakat lokal dalam menghadapi bencana banjir bandang.
Kata Kunci : Banjir Bandang, DAS Baro, Kerugian, Mitigasi.

ABSTRACT
In the history of the flash floods incident in the Baro Watershed, in the Krueng
Beungga Sub-watershed, which was once experienced by the flash floods four
times, namely in 1976, 1990, 2011, and finally in 2016. Villages that affected flash
floods were in Beungga Village, Pulo Iee Village, Lhok Ketapang Village, Alue
Calong Village, Krueng Seukek Village and Blang Malo Village. The purpose of
this study is to determine the extent, value of losses and mitigation efforts for
disaster risk reduction. The method used in the study is a Quantitative Method by
conducting observations and structured interviews with 20 village officials and 70
community members. The data used are primary data and secondary data with the
end result of mapping using Geographic Information System. Based on the results
of the analysis of the wide map and house which had an impact on the four
periods, in 1976 the area of 742 Ha, 80 houses had an impact, in 1990 the area
was 205 Ha, 20 houses had an impact, in 2011 the area was 223 Ha, 8 houses had
an impact and in 2016 the area was 223 Ha, 19 houses that have an impact. The
total loss from the four flash floods periods according to the rupiah exchange rate
in 2018 is Rp.575 million. Structural Mitigation Efforts carried out need to be
reforestation of forest rejuvenation back in the Upper Beungga Sub-watershed
area. Non-Structural Mitigation needs the capacity of local wisdom to deal with
flash floods disaster.
Keywords: Flash floods, Baro Watershed, Losses, Mitigation.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK