//

MENGUJI INDEPENDENSI WALI NANGGROE BERDASARKAN QANUN ACEH NOMOR 9 TAHUN 2013

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang Mauliza Effendi - Personal Name
SubjectISLAMIC LAW - ACEH
IMMORARITY
Bahasa Indonesia
Fakultas FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
Tahun Terbit 2017

Abstrak/Catatan

ABSTRAK Mauliza Effendi 2017 MENGUJI INDEPENDENSI WALI NANGGROE BERDASARKAN QANUN ACEH NOMOR 9 TAHUN 2013 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas syiah kuala Dr. Effendi Hasan, MA (xi, 76), pp, bilb, app Wali Nanggroe merupakan sebuah Lembaga adat dalam pemerintahan Aceh semenjak di bentuknya Qanun Aceh Nomor 8 tahun 2012 yang lalu, proses perjalanan Lembaga Wali Nanggroe dalam kancah pemerintahan terus mendapatkan pro dan kontra baik dikalangan akademisi maupun masyarakat Aceh sendiri yang kemudian Qanun tersebuat di revisi menjadi Qanun Aceh Nomor 9 tahun 2013, pelaksanaan tugas Wali Nanggroe yang seharusnya menunjukan sikap independensi yang mengedepankan nilai netralitas malah disalah gunakan dengan bersikap memihak kepada kelompok tertentu membuat Wali di ragujan untuk dapat mempersatukan rakyat Aceh. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tungas dan fungsi Lembaga Wali Nanggroe berdasarkan dengan Qanun Aceh Nomor Nomor 9 Tahun 2013 dan untuk menjelaskan mengapa Wali Nanggroe yang seharusnya memiliki sikap independen malah ikut serta sebagai tim pemenagan calon Gubernur Aceh yang diusung oleh partai Aceh pada pemilu 2017. Adapun metode penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang berlandaskan deskriptif, penelitian kualitatif deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang, dengan mengunakan metode ini maka peneliti dapat mendeskripsi, mengambarkan atau lukiskan secara sustematis, factual dan akurat. Hasil penelitian menunjukan bahwa Lembaga Wali Nanggroe merupakan sebuah lembaga adat Aceh yang dibutuhkan oleh masyarakat Aceh, namun independensi Wali Nanggroe di ragukan, hal tersebut karenakan Wali Nanggroe selalu menunjukan sikap yang mendukung pihak tertentu sehingga independensi Wali Nanggroe di pertanyakan oleh masyarakat. Wali Nanggroe di bawah pimpinan Malik Mahmud di anggap tidak memiliki nilai independensi sehingga dengan itu wali Nanggroe bukan sebagai pemesatu rakyat Aceh. Wali Nanggroe diharapkan bersikap independensi dalam menjalankan tungas dan tangung jawab lembaga yang telah beliau pimpin. Independensi Malik Mahmud merupakan hal yang paling di harapkan oleh rakyat Aceh sehingga Wali Nanggroe mampu menjadi pemersatu masyarakat baik adat maupun politik. Kata Kunci : Wali, Independesi dan Pemersatu ABSTRACT Mauliza Effendi 2017 TESTING THE INDEPENDECE OF WALI NANGGROE BASED ON QANUN OF ACEH NUMBER 9 OF 2013 Faulty of Social and politial sciene syiah kuala University Dr. Effendi Hasan, MA (xi, 76), pp, bilb, app Wali Nanggroe has been a stakeholder of an adat institution within the Aceh Government since the establishment of Qanun of Aceh Number 8 of 2012. The journey of Wali Nanggroe Institution in the governmental arena continues to gain pros and cons from either the academics or the people of Aceh. The Qanun was then revised to Qanun of Aceh Number 9 of 2013.In implementing his task, Wali Nanggroe should show the attitude of independence that puts forward the value of neutrality instead misused by being partial to a particular group that makes his ability to unite the people of Aceh is questioned. The purpose of this research was to determine the duties and functions of Wali Nanggroe in accordance with Qanun of Aceh Number 9 of 2013 and to find out the reason why the Wali Nanggroe, who should have been independent, participated as a campaign team of Aceh Governor candidate from Aceh Party in General Election of 2017. The research employed qualitative approach based with descriptive design. Descriptive qualitative research is a method that try to find out the status of a group of people, an object, a condition, a system of thought or a class of events in the present. By using this method, the researcher can describe an issue systematically, factually and accurately. The result of the research showed that Wali Nanggroe Institution is an Acehnese adat institute needed by Acehnese people, but the independence of Wali Nanggroe was in doubt. It was because the Wali Nanggroe always showed theattitude that supported acertain party so that people questioned his independence. Wali Nanggroe under the leadership of Malik Mahmud is considered to have no independent value so that the Wali Nanggroe gave the impression that he did not act as a unifier of the Acehnese people. Wali Nanggroe is expected be independent in carrying out the responsibility of the institution he leads. The independence of Malik Mahmud is the most expected by the people of Aceh so that Wali Nanggroe becomes a unifier of society both adat and politics. Keywords: Wali Nanggroe, Independence and Unifier

Tempat Terbit Banda Aceh
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

HUBUNGAN LEMBAGA WALI NANGGROE DAN MAJELIS RAKYAT PAPUA DENGAN PEMERINTAH DAERAH (STUDI PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG OTONOMI KHUSUS) (Muhammad Iqbal, 2016)

KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH DALAM PENGANGKATAN KEMBALI MALIK MAHMUD AL-HAYTAR SEBAGAI WALI NANGGROE PERIODE 2018-2023 (ELIZA RAHAYU PRATAMA, 2019)

MEKANISME PEMILIHAN DAN PENGUKUHAN WALI NANGGROE (JUANDA SAPUTRA, 2020)

PERSEPSI TOKOH ADAT KOTA SUBULUSSALAM TERHADAP PEMBENTUKAN LEMBAGA WALI NANGGROE (ahmad afandi sambo, 2015)

STUDI KOMPARASI PERAN MAJELIS ADAT ACEH DENGAN LEMBAGA WALI NANGGROE (winda zulkarnaini, 2015)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy