ANALISIS EKONOMI PEMELIHARAAN ITIK PEKING DENGAN PEMBERIAN TEPUNG KULIT PISANG FERMENTASI + BUNGKIL KELAPA + MINYAK SAWIT SEBAGAI SUBSTITUSI SEBAGIAN RANSUM KOMERSIL | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS EKONOMI PEMELIHARAAN ITIK PEKING DENGAN PEMBERIAN TEPUNG KULIT PISANG FERMENTASI + BUNGKIL KELAPA + MINYAK SAWIT SEBAGAI SUBSTITUSI SEBAGIAN RANSUM KOMERSIL


Pengarang

SRI WAHYUNI - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1305104010080

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Peternakan (S1) / PDDIKTI : 54231

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala., 2017

Bahasa

Indonesia

No Classification

636.597

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Sri Wahyuni. 1305104010080. Analisis Ekonomi Pemeliharaan Itik Peking dengan Pemberian Tepung Kulit Pisang Fermentasi + Bungkil Kelapa + Minyak Kelapa Sebagai Substitusi Sebagian Ransum Komersil. Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Syiah Kuala.
Dosen Pembimbing: Ir. Zulfan, M. Sc. dan Ir. Cut Aida Fitri, M. Si.


RINGKASAN

Pemeliharaan itik pedaging secara intensif dengan sepenuhnya tergantung pada pemberian ransum komersil diragukan keuntungannya mengingat konsumsinya tinggi. Pemecahan masalah yang dapat dilakukan antara lain adalah membuat ransum formula sendiri atau menggantikan sebagian ransum komersil dengan beberapa bahan pakan alternatif yang harganya murah. Salah satu bahan pakan alternatif yang banyak tersedia dan harganya cuma-cuma adalah kulit pisang. Kulit pisang sebagian besar berasal dari limbah pedagang makanan yang menggunakan buah pisang seperti pisang goreng, pisang molen, dan pisang adabi. Selama ini, umumnya kulit pisang dimanfaatkan sebagai makanan kambing dan sapi. Kulit pisang jarang digunakan sebagai makanan unggas karena kandungan serat kasarnya tinggi (Koni, 2009). Akan tetapi, dengan teknologi fermentasi, kandungan serat kasar di dalam bahan pakan dapat dikurangi. Berdasarkan Laporan Udjianto et al. (2005), kulit pisang yang difermentasi dengan probiotik meningkat kandungan protein kasar dan menurun serat kasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi ekonomis pemeliharaan itik peking yang diberi tepung kulit pisang fermentasi (Musa sp) + bungkil kelapa +minyak sawit + feed supplement sebagai substitusi sebagian ransum komersil.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP) tanggal 22 Februari?19 April 2017. Materi yang digunakan adalah 96 anak itik peking (DOD). Anak itik dari semua perlakuan diberikan ransum komersil ayam broiler CP511 Bravo selama periode 0?3 minggu (starter). Selanjutnya, anak itik diberikan ransum perlakuan berupa ransum komersil itik CP544 yang sebagian disubstitusi dengan tepung kulit pisang fermentasi (TKPF) + bungkil kelapa + minyak sawit + feed supplement selama periode 3?8 minggu (grower/finisher), kecuali perlakuan kontrol tanpa penggunaan bahan-bahan substitusi. Ransum perlakuan adalah ransum komersil itik CP544 + bungkil kelapa + minyak sawit + feed supplement sebanyak 100+0+0+0% (R1), 92+4+2,5+0,5+1% (R2), 85+8+5+1% (R3), dan 78+12+7,5+1,5+1% (R4 ). Rancangan yang digunakan adalah block randomized design (BRD) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kelompok. Setiap blok merupakan unit percobaan, masing-masing terdiri dari 6 ekor itik peking. Parameter yang diukur adalah total penerimaan, total biaya, income over feed cost (IOFC), dan total income. Data aspek ekonomis dianalisis dengan cara melihat kelayakan pemeliharaannya yang dihitung pada R/C dan B/C ratio (Sjahrial, 2008).
Berdasarkan hasil analisis terlihat pemeliharaan itik peking yang diberikan tepung kulit pisang fermentasi (TKPF) + bungkil kelapa + minyak sawit + feed supplement (R2?R4) sebagai substitusi sebagian ransum komersil selama periode 3?8 minggu memiliki penerimaan lebih tinggi dibandingkan dengan pemeliharaan itik peking yang diberikan seluruhnya ransum komersil (R1). Penerimaan hanya meningkat pada substitusi 4% tepung kulit pisang fermentasi (R2), sedangkan substitusi 8% atau lebih TKPF (R3, R4) menurunkan penerimaan dari pemeliharaan itik peking. Penerimaan tertinggi terdapat pada R2, sedangkan terendah terdapat pada R4.
Substitusi sebagian ransum komersil dengan minimal 8% TKPF + 5% bungkil kelapa (R3, R4) menurunkan total biaya pemeliharaan itik peking. Hasil analisis mempelihatkan semua perlakuan ransum memberikan keuntungan, namun besarnya berbeda-beda. Keuntungan paling rendah adalah jika itik peking dipelihara dengan pemberian 100% ransum komersil (R1) dan keuntungan paling tinggi diperoleh jika ransum komersil disubstitusi dengan 8% TKPF + 5% bungkil kelapa + 1% minyak sawit + 1% feed supplement (R3).
Nilai R/C dan B/C ratio tertinggi terdapat pada pemeliharaan itik-itik peking yang diberi ransum komersil dengan substitusi 8% TKPF + 5% bungkil kelapa + 1% minyak sawit + 1% feed supplement (R4). Sedangkan R/C dan B/C ratio terendah terdapat pada pemeliharaan itik-itik peking yang diberi 100% ransum komersil (R1). Ini berarti penggunaan 8% TKPF + 5% bungkil kelapa + 1% minyak sawit + 1% feed supplement sangat layak dan menguntungkan dilakukan untuk mensubstitusi ransum komersil selama periode finisher pemeliharaan itik peking
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa (1) substitusi ransum komersil dengan tepung kulit pisang fermentasi + bungkil kelapa + feed supplement selama periode finisher menurunkan biaya ransum dan menaikkan income over feed cost (IOFC) dan total income dalam pemeliharaan itik peking dan (2) ransum komersil paling layak dan menguntungkan jika disubstitusi dengan 8% tepung kulit pisang fermentasi + 5% bungkil kelapa + 1% minyak sawit + 1% feed supplement selama periode finisher pemeliharaan itik peking.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK