INSIDEN KEMATIAN EMBRIO AKIBAT CEKAMAN PANAS DAN PENGARUH TERAPI DENGAN GONADOTHROPIN RELEASING HORMONE (GNRH) PADA SAPI ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

INSIDEN KEMATIAN EMBRIO AKIBAT CEKAMAN PANAS DAN PENGARUH TERAPI DENGAN GONADOTHROPIN RELEASING HORMONE (GNRH) PADA SAPI ACEH


Pengarang

Farid Wajdi - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1209200120003

Fakultas & Prodi

Fakultas / / PDDIKTI :

Penerbit

Banda Aceh : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Veteriner Universitas Syiah Kuala., 2017

Bahasa

Indonesia

No Classification

636.082

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

RINGKASAN

FARID WAJDI. Insiden Kematian Embrio Akibat Cekaman Panas dan Pengaruh Terapi dengan Gonadothropin Releasing Hormone (GnRH) pada Sapi Aceh. TONGKU N. SIREGAR, MUSLIM AKMAL.

Sapi aceh mempunyai daya tahan terhadap lingkungan yang buruk seperti temperatur panas dan sistem pemeliharaan ekstensif tradisional, meskipun hal ini belum dibuktikan secara empiris. Di samping mempunyai keunggulan, sapi aceh memiliki kelemahan, yakni rendahnya konsentrasi progesteron terutama pada fase puncak luteal. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh cekaman panas lingkungan terhadap kematian embrio dini sapi aceh dan pengaruh terapi gonadothropin releasing hormone (GnRH) terhadap insiden kematian embrio dini pada sapi aceh akibat cekaman panas lingkungan. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor sapi aceh betina, umur 5-8 tahun, bobot badan 150-250 kg, dan telah mengalami minimal dua kali siklus reguler. Seluruh sapi yang digunakan merupakan sapi aceh milik Balai Pembibitan Ternak Unggul Indrapuri, Aceh Besar. Sapi yang digunakan secara klinis sehat dan mempunyai skor kondisi tubuh dengan kriteria baik. Sapi dipelihara di padang penggembalaan dengan pemberian pakan hijauan dan konsentrat. Sapi-sapi dikelompokkan dalam dua kelompok perlakuan, masing-masing berjumlah 10 ekor pada dua perlakuan yang berbeda, yaitu (Mei-Juni) untuk menguji efek panas lingkungan terhadap kinerja reproduksi sapi aceh. Pada kelompok 1 (K1) disinkronisasi berahi dengan menggunakan prostaglandin F2 alpha (PGF2?) sedangkan pada kelompok 2 (K2) disinkronisasi berahi dengan menggunakan protokol ovsynch. Perkawinan dilakukan dengan teknik inseminasi buatan menggunakan semen beku sapi aceh. Sebelum inseminasi, dilakukan pemeriksaan motilitas semen beku yang digunakan. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan dengan menggunakan metode transrektal ultrasonografi pada hari ke-25 setelah inseminasi. Pemeriksaan diulang setiap 10 hari sampai hari ke-55 pasca-inseminasi sesuai dengan petunjuk Chaudhary dan Purohit (2012). Sampel darah untuk pemeriksaan hormon progesteron dikoleksi dari vena jugularis. Pemeriksaan konsentrasi progesteron dilakukan di Laboratorium Riset Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala dengan metode enzyme linked absorbant immunoassay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian embrio terjadi pada K1 sebanyak 50%, sedangkan pada K2 tidak terjadi kematian embrio setelah hari ke-25. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa cekaman panas dapat menyebabkan kematian embrio dan terapi dengan GnRH dapat mengurangi kematian embrio.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK