//

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAAN HUKUM CAMBUK DI KOTA BANDA ACEH

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang Rizky Rullya Ananda - Personal Name

Abstrak/Catatan

ABSTRAK Pelaksanaan hukuman cambuk merupakan implementasi disahkannya sistem pemerintahan Syari’at Islam di provinsi Aceh. Hukuman cambuk dijatuhkan bagi pelanggaran tertentu yang diatur dalam Qanun Nomor 12 tentang Minuman Khamar (minuman keras) dan sejenisnya, Qanun Nomor 13 tentang Maisir (perjudian), dan Qanun Nomor 14 tentang Khalwat (mesum) saat ini Qanun itu semua telah di rangkap dalam Qanun yang baru di revisi yaitu Qanun Jinayat Nomor 6 Tahun 2014. Namun dalam pelaksanaannya hukum cambuk banyak menuai pro dan kontra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan hukum cambuk di gampong Cot Mesjid dan gampong Rukoh serta untuk mengetahui dan menganalisi dampak hukum cambuk terhadap masyarakat gampong Cot Mesjid dan gampong Rukoh. Teori interaksionisme simbolik menyatakan bahwa komunikasi manusia berlangsung melalui pertukaran simbol serta pemaknaan simbol-simbol tersebut, namun teori interaksi simbolik disini lebih menekankan konsep pikiran (Mind), diri (Self) dan masyarakat (Society) yang dikemukakan oleh George Herbert Mead yang digunakan sebagai unit analisis dipenelitian ini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara wawancara, observasi lapangan dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan hukum cambuk di Kota Banda Aceh lebih banyak ditentukan oleh pemahaman dan pengetahuan seseorang atau kelompok (masyarakat) melalui serentatan tahapan pemikiran yang berkembang dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan budaya yang membentuk konsep diri melalui proses sosialisasi nilai dan norma-norma yang berkembang dalam masyarakat bersangkutan sehingga pemahaman dari ajaran agama yang menjadi latar belakang sosial masyarakat Kota Banda Aceh dan budaya yang dihayati masyarakat memberi pengaruh terhadap persepsi seseorang. Selain itu pelaksanaan hukum cambuk berdampak positif bagi masyarakat gampong Cot Mesjid dan gampong Rukoh karena hukum cambuk bukan saja membuat efek jera melainkan lebih memberikan nilai-nilai edukasi, moral, dan sosial agama dalan tatanan kehidupan masyarakat. Kata kunci : Persepsi, Masyarakat, Syariat Islam dan Hukum cambuk ABSTRACT Implementation of flogging is an implementation of the legalization of Islamic Shari'ah governance system in Aceh province. Flogging imposed for certain offenses stipulated in Qanun No. 12 on Alcoholic Drinks (liquor/wine) and a like, Qanun No. 13 on Maisir (gambling), and the Qanun No. 14 Khalwat (nasty) all today’s Qanuns are in duplicate in the new revised Qanun namely Jinayat Qanun No. 6 of 2014. However, in flogging practice reaped many pros and cons. The purpose of the study was to determine the public perception of the implementation of the whip law in Cot village mosque and village Rukoh and to investigate and analyze the impact on the public flogging Cot Masjid village and Rukoh village. The theory of symbolic interactionism states that human communication takes place through the exchange of symbols and meaning of these symbols, but the theory of symbolic interaction here emphasize the concept of mind, personal (Self) and communities (Society) are expressed by George Herbert Mead is used as a unit analysis in the research. The qualitative approach was used in the research, data collection techniques used were interview, observation and literature study. The results showed that the public perception of the implementation of caning in Banda Aceh is determined more by the understanding and knowledge of a person or group (community) through several stages of developing understanding in the community who were affected by social background and culture that shaped the concept of selfness through the process of socialization values and norms that develop in the communities concerned so that the understanding of religious teachings into the social background of Banda Aceh and culture internalized society influences the person's perception. Besides the implementation of flogging has positive impact on society Cot Masjid village and Rukoh village for flogging not only create a deterrent effect but rather provide education values, moral, social and religious role in the order of the society. Keywords: Perception, Society, the Islamic Sharia and Whip Law

Tempat Terbit
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

POLEMIK PENOLAKAN UQUBAT CAMBUK DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP) ACEH (IMPLEMENTASI PERGUB ACEH NOMOR 5 TAHUN 2018 TENTANG HUKUM JINAYAT DI BANDA ACEH) (Andri Kurniawan, 2020)

PELAKSANAAN UQUBAT CAMBUK MENURUT PERATURAN GUBERNUR NOMOR 5 TAHUN 2018 TENTANG HUKUM ACARA JINAYAT ( STUDI DI WILAYAH HUKUM LEMBAGA PERMASYARAKATAN KELAS IIB MEULABOH ) (MUJIBURRAHMAN, 2020)

SIKAP MASYARAKAT TERHADAP HUKUMAN CAMBUK SEBAGAI SALAH SATU BENTUK HUKUMAN PELANGGARAN QANUN JINAYAT (MAKBULL RIZKI, 2019)

PELAKSANAAN HUKUM CAMBUK TERHADAP PELAKU ZINA (STUDI PENELITIAN DI KOTA BANDA ACEH) (SITI ANNISA AULA.AS, 2021)

PEMBELAJARAN SOSIAL DALAM PELAKSANAAN HUKUMAN CAMBUK (Wahyuni, 2020)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy