ANALISIS PENGAKUAN, PENILAIAN, PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN ASET BERSEJARAH PADA LAPORAN KEUANGAN ENTITAS PEMERINTAH DAERAH ACEH (STUDI KASUS PADA MASJID RAYA BAITURRAHMAN) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

   

ANALISIS PENGAKUAN, PENILAIAN, PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN ASET BERSEJARAH PADA LAPORAN KEUANGAN ENTITAS PEMERINTAH DAERAH ACEH (STUDI KASUS PADA MASJID RAYA BAITURRAHMAN)


Pengarang

Said Ikhsan Ridha - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1201103010090

Fakultas & Prodi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi (S1) / PDDIKTI : 62201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2016

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRACT
This study is the accounting treatment applied to heritage assets in Indonesia,
both in terms of recognition, valuation and disclosure in the financial statements of
the government. The focus of this research is to analyze of the accounting treatment
of heritage assets at Masjid Raya Baiturahman. This study is aimed to describe the
recognition of Masjid Raya Baiturrahman, describes the valuation method used to
assess the Masjid Raya Baiturrahman, Baiturrahman’s disclosures describing the
government's financial report, and analyze the suitability of the accounting standards
applicable to accounting applied to Masjid Raya Baiturrahman.
This study used primary data and secondary data. The primary data obtained
from interviews with informants research that Provincial Finance Department, the
Department of Finance and Asset Management, and managers of the Masjid Raya
Baiturrahman. Secondary data used is the government's financial statements and
other documents relating to the heritage assets.
The results showed that until now the government of Aceh has not made
recognition of an asset to the Masjid Raya Baiturrahaman, but due to the expenses
which are recorded as capital expenditure for the Masjid Raya Baiturrahman then it
implies that the government has recognized it as an asset. Futhermore the Masjid
Raya Baiturrahman assessment is not carried out, this happens because the
government has difficulty in estimating the age and the price of the acquisition of
Masjid Raya Baiturrahman. At this stage of the disclosure of the government of Aceh
have only been doing disclose expenses incurred, but not yet express Masjid Raya
Baiturrahman as an asset in the financial statements of the government. Overall the
government has not fully implemented accounting standards existing heritage assets.
Keywords: Accounting, Heritage Assets, Financial Statements, Recognition,
Assessments, Disclosure.

ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian mengenai perlakuan akuntansi yang
diterapkan untuk aset bersejarah di Indonesia baik dari segi pengakuan, penilaian, dan
pengungkapan dalam laporan keuangan pemerintah. Fokus penelitian ini adalah
analisis terhadap perlakuan akuntansi aset bersejarah pada Masjid Raya Baiturahman
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengakuan Masjid Raya
Baiturrahman, mendeskripsikan metode penilaian yang digunakan untuk menilai
Masjid Raya Baiturrahman, mendeskripsikan pengungkapan Masjid Raya
Baiturrahman pada laporan keuangan pemerintah, dan menganalisis kesesuaian
standar akuntansi yang berlaku dengan akuntansi yang diterapkan untuk Masjid Raya
Baiturrahman.
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dari hasil wawancara dengan informan penelitian yaitu Dinas Keuangan
Aceh, Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD), dan pengelola
Masjid Raya Baiturrahman. Data sekunder yang digunakan adalah laporan keuangan
pemerintah dan dokumen lain yang berhubungan dengan aset bersejarah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai saat ini pemerintah Aceh belum
melakukan pengakuan aset Masjid Raya Baiturrahman, namun dengan adanya
pengeluaran yang dicatat sebagai belanja modal untuk Masjid Raya Baiturrahman,
maka secara tidak langsung pemerintah telah mengakuinya sebagai aset. Selanjutnya
penilaian untuk Masjid Raya Baiturrahman juga tidak dilakukan, hal ini terjadi karena
pemerintah kesulitan dalam mengestimasi umur dan harga perolehan dari Masjid
Raya Baiturrahman. Pada tahap pengungkapannya pemerintah aceh hanya telah
melakukan mengungkapkan pengeluaran yang dilakukan, namun belum
mengungkapan Masjid Raya Baiturrahman sebagai aset pada laporan keuangan
pemerintah. Secara keseluruhan pemerintah belum sepenuhnya menerapkan standar
akuntansi aset bersejarah yang ada.
Kata kunci: Akuntansi, Aset Bersejarah, Laporan Keuangan. Pengakuan, Penilaian,
dan Pengungkapan

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK