//

IDENTIFIKASI DISTRIBUSI LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) PADA SUB DAS KRUENG KEUMIREU

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang Suroso - Personal Name

Abstrak/Catatan

Eksploitasi lahan secara berlebihan yang dilakukan tidak berdasarkan pertimbangan kaidah konservasi lahan yang baik, akan mengakibatkan lahan produktif akan berangsur-angsur berubah menjadi lahan kritis. Berubahnya suatu lahan produktif menjadi lahan kritis dapat ditandai dengan terjadinya penurunan fungsi kemampuan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk menampung, menyerap, menyimpan serta mengalirkan air. Akibatnya dapat mempengaruhi sumber daya air secara fungsi hidrologis, atau merusak ekosistem DAS yang ada. Untuk itu perlu dilakukan tindakan pengidentifikasian distribusi lahan kritis yang menjadi permasalahan di suatu kawasan DAS dengan metode pemetaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan distribusi tingkat lahan kritis di Sub DAS Krueng Keumireu yang merupakan bagian hulu dari DAS Krueng Aceh. Penelitian ini dimulai dari pengumpulan data primer dan sekunder. Analisis erosivitas diperoleh menggunakan persamaan Bols, besarnya laju erosi dan TBE dihitung dengan menggunakan persamaan USLE. Penilaian lahan kritis dilakukan berdasarkan pengalian nilai bobot dan skor untuk setiap kriteria dan hasil pengkalian lalu dijumlahkan dengan demikian akan diperoleh nilai skor total lahan kritis yang kemudian dapat dibagi dalam beberapa kelas tingkat kekritisan lahan. Hasil distribusi tingkat kekritisan lahan selanjutnya di-overlay terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Hasil penelitian diperoleh bahwa di Sub DAS Krueng Keumireu mempunyai kelas laju erosi dengan kriteria sangat rendah (60,06 %), rendah (27,64 %), sedang (11,13 %) dan tinggi (1,17 %) serta kelas tingkat bahaya erosi diperoleh mulai dari sangat ringan (59,00 %), ringan (19,02 %), sedang (4,51 %), berat (9,66 %) dan sangat berat (7,81 %). Distribusi total lahan kritis pada Sub DAS Krueng Keumireu dengan tingkat kekritisan sangat kritis (0,51 %), kritis (37,51 %), agak kritis (17,10 %), potensial kritis (29,76 %) dan tidak kritis (15,12 %). Berdasarkan hubungan tingkat kekritisan lahan terhadap perubahan pola ruang (penggunaan lahan 2013 dan RTRW) memberikan perubahan penggunaan lahan seperti rumput dan semak dalam kawasan budidaya direncanakan perutukannya untuk areal perkebunan, sementara seluruh areal yang terdapat dalam kawasan lindung di luar kawasan hutan akan dimanfaatkan utuk areal hutan produksi dan tambang. Wilayah yang berada dalam kawasan hutan lindung akan tetap dipertahankan fungsinya sebagai hutan yang dilindungi. Hal ini dikarenakan hampir di setiap semua penggunaan lahan berada pada keadaan lahan dengan tingkat kekritisan mulai dari sangat kritis sampai dengan tidak kritis, sehingga dengan adanya RTRW yang telah ditetapkan akan dapat memperbaiki keadaan lahan kritis menjadi lahan yang produktif.

Tempat Terbit
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

IDENTIFIKASI DISTRIBUSI LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) PADA SUB DAS KRUENG KEUMIREU (Suroso, 2016)

ANALISIS TINGKAT KEKRITISAN SUB DAS KRUENG KEUMIREU KABUPATEN ACEH BESAR (Hilda Sury, 2018)

ANALISIS KARAKTERISTIK HIDROLOGI AKIBAT PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SUB DAS KRUENG KEUMIREU (BAYU HANGGARA, 2016)

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENDATAAN LOKASI TEMPAT WISATA KULINER DI KOTA BANDA ACEH (ICHWANUL HAKIM, 2018)

IDENTIFIKASI TINGKAT KEKRITISAN LAHAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) PADA SUB DAS KRUENG JREU KABUPATEN ACEH BESAR (Melinda Indra, 2020)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy