PENGARUH VARIASI PELARUT DAN WAKTU PENYIMPANAN TERHADAP KADAR FORMALDEHID DALAM IKAN KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS) PADA PENYIMPANAN SUHU BEKU | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGARUH VARIASI PELARUT DAN WAKTU PENYIMPANAN TERHADAP KADAR FORMALDEHID DALAM IKAN KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS) PADA PENYIMPANAN SUHU BEKU


Pengarang

Ledia Fitri Ramadhana - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1208103010030

Fakultas & Prodi

Fakultas MIPA / Kimia (S1) / PDDIKTI : 47201

Penerbit

Banda Aceh : FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SYIAH KUALA., 2016

Bahasa

Indonesia

No Classification

543.85

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Ikan kerapu macan dapat memproduksi formaldehid secara alami akibat proses pembusukan. Kadar formaldehid yang terbentuk bergantung pada variasi waktu simpan, jenis pelarut serta metode yang digunakan untuk mengekstrak formaldehid dari tubuh ikan kerapu macan. Penelitian ini mengamati bagaimana kemampuan pelarut asam trikloro asetat (TCA) dan asam perklorat (HClO4) dalam mengekstrak formaldehid terikat dari tubuh ikan kerapu macan pada suhu beku selama 0, 2, 4, 6, 8 dan 10 hari dengan menggunakan metode blender. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelarut TCA mampu mengekstrak formaldehid lebih banyak dibandingkan dengan pelarut HClO4. Kadar formaldehid maksimum yang diperoleh pada waktu simpan 10 hari untuk HClO4 dan TCA masing-masing adalah 56.98 ppm dan 60.66 ppm. Efektivitas dari metode blender dihitung dari nilai persen recovery, dimana nilai persen recovery yang diperoleh berada dalam rentang yang disyaratkan yaitu 80%-120% untuk HClO4 adalah 89,1%, dan untuk TCA adalah 94,2 %. Metode blender memiliki efektivitas yang layak dalam mengekstrak formaldehid dari ikan kerapu macan.

Kata kunci: ikan kerapu macan, pelarut asam trikloro asetat (TCA), pelarut asam perklorat (HClO4), metode blender





ABSTRACT



Tiger grouper can produce formaldehyde naturally due to the decay process. Levels of formaldehyde are formed depending on the variation of the retention time, type of solvent and the method that used to extract formaldehyde from tiger grouper. The study searched how the ability of solvents trichloro acetic acid (TCA) and perchloric acid (HClO4) to extract formaldehyde from tiger grouper at freezing temperatures for 0, 2, 4, 6, 8 and 10 days by using a blender. The analysis showed that the TCA solvent more able to extract formaldehyde than the HClO4. The maximum formaldehyde levels were obtained at the retention time of 10 days for HClO4 and TCA respectively was 56.98 ppm and 60.66 ppm. The effectiveness of the blender method calculated from the percent recovery, where the percent recovery values obtained are within the required range of 80% -120% for HClO4 was 89.1%, and TCA was 94.2%. Blender method has a good effectiveness in extracting formaldehyde from tiger grouper.

Keywords: tiger grouper, trichloro acetic acid (TCA), perchloric acid (HClO4), the blender method

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK