//

UJI KINERJA ALAT PENGERING SURYA HYBRID UNTUK PENGERINGAN IRISAN JAHE GAJAH (ZINGIBER OFFICINALE ROSC)

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang Riyan Rahmanda - Personal Name

Abstrak/Catatan

Jahe gajah (Zingiber officinale Rosc) merupakan tanaman yang sangat populer di Indonesia. Jahe dapat dimanfaatkan untuk dijadikan berbagai produk diantaranya bubuk jahe, minyak atsiri jahe, dan oleoresin. Untuk membuat berbagai produk tersebut perlu dilakukan penanganan pasca panen berupa pengeringan. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam jahe sehingga mikroorganisme tidak dapat berkembang. Selain dapat dilakukan dengan cara konvensional, pengeringan jahe dapat dilakukan menggunakan alat pengering mekanis, salah satunya menggunakan alat pengering surya hybrid. Alat ini memanfaatkan energi matahari yang dikombinasikan dengan energi biomassa serbuk kayu. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja alat pengering surya hybrid dan karakteristik jahe gajah setelah dikeringkan menggunakan energi matahari dan kombinasi energi matahari dan biomassa serbuk kayu Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengering surya hybrid, hybrid recorder, stopwatch, thermometer, humidity meter, solarimeter, anemometer digital, pisau dan timbangan digital. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian adalah jahe gajah sebanyak 14,4 kg. Untuk biomassa serbuk kayu digunakan sebanyak 24 kg, dengan rincian masing-masing 12 kg pada percobaan 1 dan percobaan 2. Hasil penelitian pada pengeringan secara hybrid saat percobaan 1 didapatkan temperatur lingkungan sebesar 31 °C yang dikombinasikan dengan temperatur pembakaran biomassa serbuk kayu dengan rata-rata sebesar 104,3 °C. Temperatur ruang pengering sebesar 38,7 °C dan rata-rata temperatur cerobong 40,2 °C. Pada percobaan 2 didapatkan rata-rata temperatur lingkungan mencapai 35,38 °C dikombinasikan dengan rata-rata temperatur ruang pembakaran biomassa serbuk kayu yang mencapai 100,18 °C. Temperatur ruang pengering sebesar 44,7 °C dan rata-rata temperatur cerobong adalah 47,9 °C. Pengeringan dengan matahari saja saat percobaan 1 didapatkan rata-rata temperatur lingkungan sebesar 35,34 °C dan rata-rata temperatur pada ruang pengering sebesar 41.99 °C. Rata-rata ruang pengering pada percobaan 2 sebesar 41,68 °C dengan rata-rata temperatur lingkungan sebesar 35,36 °C. Pada pengujian kelembaban relatif, didapatkan rata-rata RH lingkungan pada percobaan 1 pengeringan secara hybrid sebesar 63,44 % dengan rata-rata RH ruang pengering sebesar 52,49 %. Percobaan 2 didapatkan rata-rata RH lingkungan sebesar 52,43 % dengan RH ruang pengering sebesar 39,71 %. Pengeringan menggunakan energi matahari saja pada percobaan 1 diperoleh rata-rata RH lingkungan 49,73 % dengan RH ruang pengering 37,47 %. Percobaan 2 RH lingkungan didapatkan 51,65 % dengan RH ruang pengering sebesar 35,70 %. Pada pengujian iradiasi surya didapatkan nilai iradiasi surya tertinggi yaitu pada pukul 12.00 WIB sebesar 891,43 W/m2 dan nilai iradiasi surya terendah yaitu sebesar 5,71 W/m2 pada pukul 16.00 WIB dan 17.00 WIB. Rata-rata kecepatan udara lingkungan pada saat pengeringan dengan cara hybrid baik pada percobaan 1 dan percobaan 2 diperoleh sebesar 0,18 m/s. Pada saat pengeringan menggunakan energi matahari diperoleh rata rata kecepatan udara lingkungan percobaan 1 sebesar 0,14 m/s dan 0,15 m/s pada percobaan 2. Kehilangan energi pada saat pengeringan hybrid tidak signifikan yakni sebesar 102,54 W pada percobaan 1 dan 251,30 W pada percobaan 2. Pada perhitungan kadar air didapatkan jahe gajah yang memiliki kadar air paling bagus pada saat pengeringan dengan matahari dan biomassa adalah 3,77 % pada rak 1B (rak pengering yang menghadap ke arah timur) sedangkan jahe gajah yang memiliki kadar air paling bagus pada saat pengeringan dengan matahari saja adalah 8.45 % pada rak 1B. Laju pengeringan yang cepat pada rak 1B baik pada saat pengeringan dengan hybrid ataupun matahari saja menyebabkan nilai kadar air pada rak 1B paling cepat mengalami penurunan. Rendemen Jahe gajah yang memiliki nilai ekonomis yang paling tinggi didapatkan 14,47 % saat pengeringan menggunakan energi matahari. Densitas jahe gajah paling rendah didapatkan sebesar 0,151282 gr/cm3 saat pengeringan matahari dan serbuk kayu. Untuk kadar abu paling tinggi didapatkan yaitu 12,67 % pada rak 1B saat pengeringan menggunakan energi matahari dan serbuk kayu, namun untuk kadar abu yang sesuai dengan SNI tidak melebihi 8 %.

Tempat Terbit
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

KAJIAN KARAKTERISTIK PENGERINGAN JAHE GAJAH (ZINGIBER OFFICINALE ROSC) MENGGUNAKAN ALAT PENGERING TIPE HOHENHEIM (Rahmadi, 2019)

MODIFIKASI DAN UJI KINERJA ALAT PENGERING ENERGI SURYA-HYBRID TIPE RAK UNTUK PENGERINGAN IKAN TERI (RISMAN HANAFI, 2016)

MODIFIKASI MODEL RAK ALAT PENGERING TIPE HYBRID PADA PENGERINGAN IKAN KEUMAMAH (Fajar Rizki, 2019)

PERUBAHAN LAJU ALIRAN SALIVA SEBELUM DAN SESUDAH BERKUMUR REBUSAN JAHE MERAH (ZINGIBER OFFICINALE VAR. RUBRUM) PADA MAHASISWA FKG UNSYIAH ANGKATAN 2016 (Niken Yulia, 2017)

KAJIAN SISTEM PENGERINGAN IKAN DENGAN METODE HYBRID (ENERGI SURYA DAN ENERGI BAHAN BAKAR GAS) (Muhammad Hatta, 2018)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy