PERBANDINGAN METODE DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) DAN VISUAL ON SCREEN PADA PERUBAHAN GARIS PANTAI DENGAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL DI KABUPATEN ACEH TIMUR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERBANDINGAN METODE DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) DAN VISUAL ON SCREEN PADA PERUBAHAN GARIS PANTAI DENGAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL DI KABUPATEN ACEH TIMUR


Pengarang

SAFRIADI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Sugianto - 196502231992031003 - Dosen Pembimbing I
Manfarizah - 196809081993032003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1805108010033

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Ilmu Tanah (S1) / PDDIKTI : 54294

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2022

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Di Kabupaten Aceh Timur fenomena abrasi menjadi sebuah bencana terkait dengan beberapa kerugian yang diderita masyarakat terhadap adanya abrasi (Abda, 2019). Dampak dari abrasi yang melampaui batas menyebabkan rusaknya prasarana dan fasilitas umum, area tambak, serta mengancam pemukiman penduduk sehingga menyebabkan sebagian rumah warga kian tergerus dan terancam ambruk.
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik survey. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah persiapan, pra analisis, dan analisis. Proses pembuatan peta dimulai dengan melakukan koreksi geometrik pada citra Landsat. Kemudian dilakukan pemisahan antara daratan dan lautan dengan metode Normalized Difference Water Index (NDWI) dan metode Digitasi. Selanjutnya, Garis Pantai di analisis dengan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dan Visual on Screen (Measure Tool) untuk mengetahui jarak abrasi dan akresi di pesisir Aceh Timur.
Hasil analisis perubahan garis pantai di Kabupaten Aceh Timur dengan DSAS terdapat 655 yang mengalami akresi dan 2594 transect mengalami abrasi, sehingga dapat disimpulkan Aceh Timur mengalami abrasi. Kecamatan yang mengalami akresi tertinggi berada di Kecamatan Simpang Ulim sepanjang 626,48 m dan Akresi terendah berada di Kecamatan Idi Rayeuk sepanjang 0,11 m. Kecamatan yang mengalami abrasi tertinggi berada di Kecamatan Peureulak sepanjang -53,67 m dan abrasi terendah sepanjang -0,10 m. Sedangkan pada metode Visual on Screen didapatkan kecamatan yang mengalami perubahan akresi tertinggi berada di Kecamatan Simpang Ulim sebesar 640,28 m dan abrasi tertinggi berada di Kecamatan Julok sebesar -60,2 m.
Hasil dari uji akurasi menggunakan Confusion Matriks didapatkan bahwa nilai Kappa Accuracy pada klasifikasi NDWI sebesar 86.49% lebih tinggi dari klasifikasi Digitasi yang sebesar 72.25%. Sehingga, klasifikasi NDWI memberikan hasil akurasi yang tinggi dari pada klasifikasi Digitasi.

Di Kabupaten Aceh Timur fenomena abrasi menjadi sebuah bencana terkait dengan beberapa kerugian yang diderita masyarakat terhadap adanya abrasi (Abda, 2019). Dampak dari abrasi yang melampaui batas menyebabkan rusaknya prasarana dan fasilitas umum, area tambak, serta mengancam pemukiman penduduk sehingga menyebabkan sebagian rumah warga kian tergerus dan terancam ambruk. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik survey. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah persiapan, pra analisis, dan analisis. Proses pembuatan peta dimulai dengan melakukan koreksi geometrik pada citra Landsat. Kemudian dilakukan pemisahan antara daratan dan lautan dengan metode Normalized Difference Water Index (NDWI) dan metode Digitasi. Selanjutnya, Garis Pantai di analisis dengan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dan Visual on Screen (Measure Tool) untuk mengetahui jarak abrasi dan akresi di pesisir Aceh Timur. Hasil analisis perubahan garis pantai di Kabupaten Aceh Timur dengan DSAS terdapat 655 yang mengalami akresi dan 2594 transect mengalami abrasi, sehingga dapat disimpulkan Aceh Timur mengalami abrasi. Kecamatan yang mengalami akresi tertinggi berada di Kecamatan Simpang Ulim sepanjang 626,48 m dan Akresi terendah berada di Kecamatan Idi Rayeuk sepanjang 0,11 m. Kecamatan yang mengalami abrasi tertinggi berada di Kecamatan Peureulak sepanjang -53,67 m dan abrasi terendah sepanjang -0,10 m. Sedangkan pada metode Visual on Screen didapatkan kecamatan yang mengalami perubahan akresi tertinggi berada di Kecamatan Simpang Ulim sebesar 640,28 m dan abrasi tertinggi berada di Kecamatan Julok sebesar -60,2 m. Hasil dari uji akurasi menggunakan Confusion Matriks didapatkan bahwa nilai Kappa Accuracy pada klasifikasi NDWI sebesar 86.49% lebih tinggi dari klasifikasi Digitasi yang sebesar 72.25%. Sehingga, klasifikasi NDWI memberikan hasil akurasi yang tinggi dari pada klasifikasi Digitasi.

Citation



    SERVICES DESK