GAMBARAN HISTOPATOLOGIS UTERUS KELINCI BUNTING SEMU SETELAH MENGALAMI TRANSPLANTASI DENGAN PERBEDAAN WAKTU LAMA OVARIUM DI DALAM UTERUS | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

GAMBARAN HISTOPATOLOGIS UTERUS KELINCI BUNTING SEMU SETELAH MENGALAMI TRANSPLANTASI DENGAN PERBEDAAN WAKTU LAMA OVARIUM DI DALAM UTERUS


Pengarang
Dosen Pembimbing

Tongku Nizwan Siregar - 196909011994031003 - Dosen Pembimbing I
Syafruddin - 196811191994031001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1802101010138

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran Hewan / Pendidikan Kedokteran Hewan (S1) / PDDIKTI : 54261

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran Hewan., 2022

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Salah satu dampak dari transplantasi adalah terjadinya stres (imunosupresif) yang menyebabkan sistem imun host akan menolak organ yang ditransplantasikan. Pada kegiatan transplantasi ovarium pada uterus kelinci bunting semu, stres ini diduga akan menyebabkan kerusakan pada uterus kelinci bunting semu yang dapat disebabkan karena induksi bunting semu yang tidak terjadi secara sempurna dan lamanya ovarium berada di dalam uterus. Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan perubahan histopatologis uterus kelinci bunting semu seiring peningkatan lama ovarium di dalam uterus dalam kegiatan transplantasi ovarium. Dalam penelitian ini digunakan sembilan kelinci betina lokal bunting semu, berumur 3-5 tahun dan bobot badan 1,5-2,9 kg. Setelah adaptasi selama 30 hari, seluruh kelinci dibagi dalam tiga kelompok perlakuan yaitu, K1 (n=3) kelompok kelinci yang dilakukan transplantasi ovarium selama 3 hari, K2 (n=3) kelompok kelinci yang dilakukan transplantasi ovarium selama 5 hari, dan K3 (n=3) kelompok kelinci yang dilakukan transplantasi ovarium selama 7 hari. Kelinci diinjeksi dengan 100 IU PMSG secara intramuskulus dan diikuti tiga hari kemudian dengan injeksi 75 IU hCG secara intravena. Transplantasi ovarium dilakukan pada hari ke-8 (Hari ke- 0 adalah hari ketika injeksi hCG). Uterus dikoleksi setelah proses transplantasi selesai dilakukan dan dibuat preparatnya dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada K1, terlihat udema pada lumen uterus, hiperemi pada endometrium, nekrosis pada epitel dan infiltrasi sel radang. Hiperemi tergolong berat dan memenuhi endometrium. Sel radang menumpuk di berbagai tempat. Pada K2, terdapat hiperemi pada endometrium, nekrosis pada epitel endometrium dan infiltrasi sel radang. Infiltrasi sel radang dan hiperemi yang terjadi tidak seberat pada K1. Pada K3, gambaran histopatologis endometrium normal dan tidak banyak terjadi kerusakan. Kerusakan-kerusakan yang terjadi hanya nekrosis dan hiperemi yang lebih ringan dibandingkan K2 dan K1. Disimpulkan bahwa peningkatan lama ovarium sapi aceh di dalam uterus kelinci bunting semu akan menurunkan gambaran histopatologis uterus.

One of the effects of transplantation is the occurrence of stress (immunosuppression) which causes the host's immune system to reject the transplanted organ. In ovarian transplantation activity in a pseudopregnant rabbit uterus, this stress is thought to cause damage to the pseudopregnant rabbit uterus which can be caused by incomplete induction of pseudopregnant and the length of time the ovaries are in the uterus. The purpose of this study was to analyze the increase in uterine histopathological changes in pseudopregnant rabbits as the length of the ovaries in the uterus increases during ovarian transplantation. This study used nine local female rabbits that were pseudopregnant, aged 3-5 years old with body weight of 1.5-2.9 kg. After adaptation, all rabbits were divided into three treatment groups, i.e., K1 (n=3) group of rabbits that underwent ovarian transplantation for 3 days, K2 (n=3) group of rabbits that underwent ovarian transplantation for 5 days, and K3 (n=3 ) group of rabbits that underwent ovarian transplantation for 7 days. The rabbits were injected with 100 IU PMSG intramuscularly and followed three days later by an injection of 75 IU hCG intravenously. Ovarian transplantation was performed on day 8 (Day 0 was the day when hCG was injected). The uterus was collected after the transplant process was completed and the staining was done with Hematoxylin and Eosin stain. The results showed that at K1, there was visible edema of the uterine lumen, hyperemia in the endometrium, necrosis in the epithelium and inflammatory cell infiltration. Hyperemia were classified as severe and filled the endometrium. Inflammatory cells accumulated in various places. In K2, there was endometrial hyperemia, necrosis in the endometrial epithelium, and inflammatory cell infiltration. inflammatory cell infiltration and hyperemia that occurred were not as severe as in K1. At K3, the histopathological appearance of the endometrium was normal and there was not much damage. The only damage that occurred was necrosis and hyperemia which were lighter than in K2 and K1. It is concluded that histopathological changes in uterus undergoing ovarian transplantation tended to be more severe at 3 days of transplantation than at 5 and 7 days.

Citation



    SERVICES DESK