ANALISIS DEBIT BANJIR MENGGUNAKAN METODE HIDROGRAF SATUAN SINTETIS NAKAYASU DAN SOIL CONSERVATION SERVICE (SCS) PADA SUNGAI KRUENG KALA ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS DEBIT BANJIR MENGGUNAKAN METODE HIDROGRAF SATUAN SINTETIS NAKAYASU DAN SOIL CONSERVATION SERVICE (SCS) PADA SUNGAI KRUENG KALA ACEH BESAR


Pengarang

TUWANKU FARHAN ABIEL - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Cut Dwi Refika - 197907022006042001 - Dosen Pembimbing I
Nina Shaskia - 198903152015042002 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1704101010124

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik Sipil., 2022

Bahasa

Indonesia

No Classification

627.4

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Sungai Krueng Kala adalah salah satu sungai yang terletak di Kecamatan Lhoong dengan panjang 8,258 km dan luas DAS 15,701 km2. Kecamatan Lhoong merupakan salah satu kawasan yang ketika memasuki musim penghujan akan terdampak bencana banjir. Hal ini terjadi karena meluapnya air pada Sungai Krueng Kala ke kawasan permukiman dan persawahan warga. Dampak yang diakibatkan yaitu kerusakan pada rumah dan lahan pertanian sawah yang terendam. Tujuan dari penelitian ini adalah memperkirakan besarnya nilai debit banjir pada Sungai Krueng Kala dengan menggunakan Metode Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu dan Soil Conservation Service (SCS). Penghitungan nilai debit banjir dengan periode ulang 2, 5, 10, 25, 50, dan 100 tahun pada Sungai Krueng Kala ini menggunakan metode hidrograf satuan sintetis Nakayasu dan SCS berdasarkan data curah hujan harian maksimum selama 10 tahun dari 2 stasiun yaitu Stasiun Krueng Aceh dan Siron. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah nilai debit banjir rencana untuk metode HSS Nakayasu Q2th, Q5th, Q10th, Q25th, Q50th, dan Q100th masing-masing sebesar 142,324 m3/det, 158,800 m3/det, 168,625 m3/det, 180,135 m3/det, 188,174 m3/det, dan 195,818 m3/det, untuk metode HSS SCS masing-masing sebesar 120,616 m3/det, 132,594 m3/det, 139,736 m3/det, 148,103 m3/det, 153,947 m3/det, dan 159,503 m3/det. Terdapat beberapa perbedaan antar kedua metode yaitu pada bentuk grafik, waktu puncak, dan debit banjir puncak. Bentuk grafik HSS Nakayasu yaitu kondisi naik yang cepat dan turun yang lamabat, sedangkan HSS SCS kondisi naik dan turun yang relatif hampir sama. Waktu puncak HSS Nakayasu yaitu 1,473 jam, sedangkan HSS SCS yaitu 4 jam. Perbedaan terakhir ada pada debit banjir puncak untuk HSS Nakayasu yaitu 1,231 m3/det dan HSS SCS yaitu 0,722 m3/det. Berdasarkan nilai debit yang melewati pelimpah, HSS Nakayasu lebih cocok digunakan pada Sungai Krueng Kala.

Krueng Kala River is one of the rivers located in Lhoong District with a length of 8,258 km and a watershed area of 15,701 km2. Lhoong District is one of the areas when entering the rainy season will be affected by floods. This is due to the overflow of water in the Krueng Kala River into residential areas and rice fields. The resulting impact is damage to houses and submerged rice fields. The purpose of this study was to estimate the value of the flood discharge on the Krueng Kala River using the Nakayasu and the Soil Conservation Service (SCS) Synthetic Unit Hydrograph Method. The calculation of flood discharge values with return periods of 2, 5, 10, 25, 50, and 100 years on the Krueng Kala River uses the Nakayasu and SCS synthetic unit hydrograph method based on maximum daily rainfall data for 10 years from 2 stations, namely Krueng Aceh Station and Siron Station. The results obtained from this study are the design flood discharge values for the HSS Nakayasu Q2yr, Q5yr, Q10yr, Q25yr, Q50yr, dan Q100yr methods respectively of 142,324 m3/s, 158,800 m3/s, 168,625 m3/s, 180,135 m3/s, 188,174 m3/s, and 195,818 m3/s, for the HSS SCS method are 120,616 m3/s, 132,594 m3/s, 139,736 m3/s, 148,103 m3/s, 153,947 m3/s, and 159,503 m3/s. There are several differences between the two methods, there are the form of graphs, peak times, and peak flood discharges. The graphic form of HSS Nakayasu is a condition of fast rising and slow falling, while HSS SCS rising and falling conditions are relatively almost the same. The peak time for HSS Nakayasu is 1,473 hours, while for HSS SCS is 4 hours. The last difference is in the peak flood discharge for HSS Nakayasu which is 1,231 m3/s.and HSS SCS is 0,722 m3/s. Based on the value of the discharge through the spillway, HSS Nakayasu is more suitable for use on the Krueng Kala River.

Citation



    SERVICES DESK