Mutiara Anggraini. TOLERANSI BEDA AGAMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI MASYARAKAT DESA AMALIAH DAN DESA LAWE PETANDUK. Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, 2020

Abstrak

Abstrak desa amaliah dan desa lawe petanduk adalah desa bertetangga beda suku dan agama, akan tetapi kedua masyarakat menjalin hubungan baik, rukun dan harmonis. saling menghargai agama yang dianut oleh orang lain. menciptakan interaksi yang baik, saling tegur sapa dan bergaul. masyarakat senantiasa merapkan sikap toleransi. sikap toleransi sangat dikedepankan oleh mereka yang tanpa disadari kehidupan sehari-hari menjadi berjalan dengan baik tanpa ada masalah. dengan adanya perbedaan agama dan suku tidak menimbulkan konflik antar masyarakat dari kedua desa ini, bahkan tidak jarang masyarakat yang berbeda agama tersebut menjalin kerja sama dalam berbagai bidang dan hubungan kekerabatan. dalam kehidupan sehari-hari interaksi kedua masyarakat yang berbeda latar belakang agama dan suku ini senantiasa menciptakan tindakan dan perilaku yang berulang-ulang sehingga terbentuknya sebuah kebiasaan, semua didasarkan pada tindakan yang mengkontruksikan perilaku praktis dalam kehidupan

Baca Juga : POLA INTERAKSI MASYARAKAT SUKU ALAS DAN SUKU BATAK DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT (DIDESA LAWE BEKUNG,KECAMATANBADAR, KABUPATEN ACEH TENGGARA) (CHERLY AULIA, 2018) ,

Baca Juga : TOLERANSI DALAM MASYARAKAT ACEH TENGGARA (STUDI FENOMENOLOGIS PENGALAMAN KELUARGA TERHADAP TOLERANSI DI DESA TANOH MEGAKHE DAN DESA TANAH MERAH) (PUTRI SRI MALA MP, 2018) ,

hari masyarakat yang dilandasi oleh insting dan refleksivitas dari masyarakat tersebut didasari dari apa yang mereka lakukan, dirasakan, dan dialami sebelumnya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat yang berbeda suku dan agama di desa amaliah dengan desa lawe. petanduk mampu menciptakan tatanan sosial hidup berdampingan dalam kehidupan sehari-hari. penelitian ini menggunakan metode etnometodologi pendekatan kualitatif dengan menggunakan teori etnometodologi garfinkel. informan penelitian ini diperoleh dengan metode purposive sampling. pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. hasil penelitian menunjukkan bahwasanya toleransi dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat desa amaliah dengan desa lawe petanduk tercipta karena adanya kebudayaan yang sama, saling membantu, menghormati, tidak mengejek agama yang dianut oleh orang lain, tenggang rasa, proses kawin-mawin lintas agama dan menjaga keteraturan sosial. kata kunci: toleransi, kehidupan sehari-hari, etnometodologi abstract amaliah village and lawe petanduk village are neighboring villages of different tribes and religions, but the two comminites have good, harmonius and harmonius relations. respect each otherís religion. creating good interactions scolding each other and getting along. society always implements tolerance. tolerance is very much promoted by those who are unnoticed that daily life is going very well. without any problems. with the differences in religion and ethnicity, it did not cause conflict between the two villages, even it was not uncummon for people of different religions to establish cooperation in various fields in kinship relations. in daily life the interaction of the two communities with different religious and tribal backgrounds always creates repetitive behavioral actions so as to form a habit all based on the instincts and reflexivity of the community based on what they did, fels, and experienced before. this study aims to find out how the daily lives of people of different tribes and religions in the amaliah village with lawe petanduk are able to create a social order living side by side in daily life. this research uses ethnometodology qualitative approach using garfinkel ethnometodology theory the informants of this research were obtained by using purposive sumpling method. collection was carried out by means of observation, interviews, and documentation. the results of the study showed that tolerance in daily life in the amaliah village community with the lawe petanduk village was created because of the same culture, helping each other, respecting, not mocking the religion of others, tolerance, the process of others, tolerance, the process of interfaith marriage and maintaining social order. key words : of tolerance, daily life,

Pengarang tidak dapat memberikan Full Text secara langsung, untuk mendapatkan full text silahkan menghubungi email pengarang : mutiarawijaya42@yahoo.com atau dapat mengisi Form LSS di bawah.

Chat Services LSS



Tulisan yang relevan

INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT SUKU NIAS DENGAN MASYARAKAT SUKU DEVAYAN DI KECAMATAN SIMEULUE TIMUR (Yenila, 2019) ,

PERGESERAN NILAI ADAT DALAM UPACARA PERKAWINAN DI DESA LAWE SERKE, KECAMATAN LAWE SIGALA-GALA, KABUPATEN ACEH TENGGARA (Saherman, 2018) ,

ANALISIS PENGGUNAAN ANGGARAN DESA DALAM MENINGKATKAN PEMBANGUNAN (STUDI DI DESA KUTA JEUMPA KECAMATAN JEUMPA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA) (ERIK PRATAMA, 2019) ,


Kembali ke halaman sebelumnya


Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi