Kasrin. ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT PADA MASYARAKAT DISEKITAR HUTAN HUJAN TROPIS KEDAH, KAWASAN EKOSISTEM LEUSER (KEL) KABUPATEN GAYO LUES. Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala, 2019

Abstrak

Hutan memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan yang berperan dalam mempertahankan stabilitas ekosistem hutan dan dapat memberikan manfaat ekonomis maupun ekologis bagi kehidupan manusia. tumbuhan obat adalah tumbuhan yang dapat dipergunakan sebagai obat, baik yang sengaja ditanam maupun tumbuh secara liar. etnobotani sebagaimana gagasan yang disampaikan oleh hasberger tahun 1985 dalam perkumpulan arkeologi adalah pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh suku bangsa yang primitif. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan, organ tumbuhan yang digunakan dan penyakit apa saja yang dapat diobati oleh masyarakat, cara pengolahan tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional, dan cara masyarakat disekitar hutan hujan tropis kedah, kawasan ekosistem leuser dalam mengkonservasi tumbuhan yang bermanfaat untuk bahan obat-obatan. penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. jumlah sampel yang di ambil di desa penosan dan desa

Baca Juga : INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN LUMUT DI KAWASAN RAINFOREST LODGES KEDAH KECAMATAN BLANGJERANGO KABUPATEN GAYO LUES (ISMAWATI, 2020) ,

Baca Juga : ETNOBOTANI MASYARAKAT GAYO DI KECAMATAN BLANGKEJEREN, KABUPATEN GAYO LUES (Tuti Wahyuni, 2019) ,

san sepakat kecamatan blangjerango adalah berjumlah 50 orang dilihat berdasarkan subjek yang mewakili dari seluruh populasi yang ada di kedua desa tersebut. sampel dibagi menjadi tiga golongan yaitu, aparatur desa, tabib/dukun, dan masyarakat biasa. analisis data yang digunakan dengan teknis analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. analisis ini merupakan analisis isi (content analisys) berdasarkan data pengetahuan responden terhadap tumbuhan sebagai obat. tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat desa penosan dan desa penosan sepakat diproleh 78 jenis tumbuhan dan berdasarkan suku nilai kegunaan tertinggi adalah suku zingiberaceae (8,5%), asteraceae (7,0%), fabaceae (7,0%), moraceae (5,6%), poaceae (5,6%), malvaceae (4,2%), dan arecaceae (4,2%). suku tumbuhan yang masing-masing tingkat penggunaan (2,8%) adalah : annonaceae, apocynaceae, araceae, rubiaceae, verbenaceae, solanaceae dan verbenaceae. suku tumbuhan lainnya yaitu 28 suku digunakan dengan intensitas masing-masing (1,4%). pemanfaatan tumbuhan berdasarkan habitus adalah habitus pohon 38,6%, perdu (31,3%), herba (24,1%) dan yang paling rendah adalah liana (6,0%). organ tumbuhan yang paling banyak digunakan organ daun (39,3%), seluruh organ (13,8%), buah (12,4%) dan umbi (11,0%), sedangkan yang paling sedikit digunakan dari organ akar (7,6%), kulit (7,6%), batang (2,8%), biji (2,1%), bunga (2,8%), dan seludang (0,7%). pemnfaatan tumbuhan berdasarkan kelompok penyakit adalah penyakit tidak menular (39,5%), menular (29,6%), lain-lain (16,0%) dan frekuensi terendah penyakit gangguan jiwa (8,6%), kronik sebanyak (6,2%). pengolahan paling sering digunakan dalam mengolah tanaman obat frekuensi tertinggi adalah direbus sebanyak 32,3%, ditumbuk 30,6% dan frekuensi terendah digiling, dilayukan, diparut, fermentasi, dan dikunyah berkisar antara 1,6% sampai dengan

Tulisan yang relevan

ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT PADA MASYARAKAT DISEKITAR HUTAN HUJAN TROPIS KEDAH, KAWASAN EKOSISTEM LEUSER (KEL) KABUPATEN GAYO LUES (Kasrin, 2019) ,

TINGKAT KESAMAAN JENIS KUPU-KUPU (ORDO LEPIDOPTERA) HUTAN KEDAH DAN KAWASANPERKEBUNAN MASYARAKATDI KECAMATAN BLANGJERANGO KABUPATEN GAYO LUES (INTAN SULASTRI, 2021) ,

KEANEKARAGAMAN INSEKTA PERMUKAAN TANAH DI KAWASAN RAINFOREST LODGES KEDAH BUNGA LOW KECAMATAN BLANGJERAGO, KABUPATEN GAYO LUES (Kasmawati, 2020) ,


Kembali ke halaman sebelumnya


Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi