PENGARUH PERBEDAAN WAKTU LAMA OVARIUM SAPI ACEH DIDALAM UTERUS KELINCI BUNTING SEMU TERHADAP PERUBAHAN KONSENTRASI HORMON KORTISOL | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGARUH PERBEDAAN WAKTU LAMA OVARIUM SAPI ACEH DIDALAM UTERUS KELINCI BUNTING SEMU TERHADAP PERUBAHAN KONSENTRASI HORMON KORTISOL


Pengarang

Irawan Setiawan - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Tongku Nizwan Siregar - 196909011994031003 - Dosen Pembimbing I
Syafruddin - 196811191994031001 - Dosen Pembimbing II
Gholib - 198203212014041001 - Penguji
Dasrul - 196503101992031004 - Penguji
Roslizawaty - 196901192003122001 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

1802101010185

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran Hewan / Pendidikan Kedokteran Hewan (S1) / PDDIKTI : 54261

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran Hewan., 2023

Bahasa

Indonesia

No Classification

636.2

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK

Salah satu dampak dari transplantasi adalah terjadinya stres (imunosupresif) yang menyebabkan sistem imun host akan menolak organ yang ditransplantasikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan konsentrasi hormon kortisol kelinci New Zealand (NZ) bunting semu yang mengalami transplantasi ovarium sapi aceh yang ditransplantasikan pada kelinci NZ bunting semu dan pengaruh peningkatan lama ovarium sapi aceh di dalam uterus kelinci NZ bunting semu terhadap penurunan konsentrasi hormon kortisol kelinci. Dalam penelitian ini digunakan sembilan ekor kelinci betina berumur 3-5 tahun, bobot badan 1,5-2,9 kg yang dibagi dalam tiga kelompok perlakuan (n=3). Setelah adaptasi selama 30 hari, seluruh kelinci dibagi dalam tiga kelompok perlakuan yaitu, K1 (n=3) kelompok kelinci yang dilakukan transplantasi ovarium selama 3 hari, K2 (n=3) kelompok kelinci yang dilakukan transplantasi ovarium selama 5 hari, dan K3 (n=3) kelompok kelinci yang dilakukan transplantasi ovarium selama 7 hari. Induksi bunting semu dilakukan dengan menggunakan PMSG dan hCG. Kelinci diinjeksi dengan 100 IU PMSG secara intramuskulus dan diikuti tiga hari kemudian dengan injeksi 75 IU hCG secara intravena. Transplantasi ovarium dilakukan pada hari ke-8 (hari ke-0 adalah hari ketika injeksi hCG). Koleksi feses untuk pemeriksaan metabolit kortisol dilakukan pada H-3 dan H3 (K1), H5 (K2), dan H7 (K3). Konsentrasi metabolit hormon kortisol dilakukan menggunakan teknik enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Rata-rata kadar kortisol sebelum vs setelah transplantasi pada K1; K2; dan K3 masing-masing adalah 194,64±64,28 vs 141,75±116,35; 149,55±209,70 vs 80,65±39,19; dan 66,90±68,21 vs 46,54±25,29 (ng/g) (P>0,05). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa transplantasi ovarium sapi aceh pada kelinci NZ bunting semu tidak meningkatkan konsentrasi kortisol dan lama ovarium di dalam uterus kelinci tidak memengaruhi konsentrasi kortisol kelinci NZ.

Kata kunci: bunting semu, kortisol, transplantasi, kelinci New Zealand

ABSTRACT One of the effects of transplantation is the occurrence of stress (immunosuppression) which causes the host's immune system to reject the transplanted organ. This study aims to determine the increase in cortisol concentrations of pseudo-pregnant New Zealand (NZ) rabbits undergoing ovarian transplantation in Aceh cattle transplanted in pseudo-pregnant NZ rabbits. In this study, nine female rabbits aged 3-5 years old, 1.5-2.9 kg body weight were used which were divided into three treatment groups (n=3). After adaptation for 30 days, all rabbits were divided into three treatment groups, namely, K1 (n=3) group of rabbits that underwent ovarian transplantation for 3 days, K2 (n=3) group of rabbits that underwent ovarian transplantation for 5 days, and K3 ( n=3) group of rabbits who underwent ovarian transplantation for 7 days. Pseudo-pregnancy induction was performed using PMSG and hCG. Rabbits were injected with 100 IU PMSG intramuscularly and followed three days later by injection of 75 IU hCG intravenously. Ovarian transplantation was performed on day 8 (day 0 was the day when hCG was injected). The concentration of cortisol hormone metabolites was measured from stool samples using an enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) technique. Mean cortisol levels before transplant vs after transplant at K1; K2; and K3 were respectively, 194,64±64,28 vs 141,75±116,35; 149,55±209,70 vs 80,65±39,19; and 66,90±68,21 vs 46,54±25,29 (ng/g) (P>0,05). From the results of this study, it was concluded that the ovarian transplantation of Aceh cattle in pseudo-pregnant NZ rabbits did not increase the cortisol concentration and the length of the ovaries in the rabbit's uterus did not affect cortisol concentrations in NZ rabbits. Keyword: Pseudopregnancy, cortisol, transplant, New Zealand rabbits.

Citation



    SERVICES DESK