//

HUBUNGAN MEMAAFKAN DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA WANITA YANG BERCERAI

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang Meutia Maulida - Personal Name

Abstrak/Catatan

ABSTRAK Perceraian berdampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan wanita yang bercerai. Masalah-masalah yang terjadi setelah perceraian memengaruhi kondisi kesejahteraan psikologis wanita yang bercerai sehingga perlu suatu tindakan yang dapat mengatasi penderitaan dan penyembuhan secara psikologis, yaitu melalui memaafkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 266 wanita bercerai yang berusia 23-40 tahun yang tinggal di Aceh. Alat ukur yang digunakan adalah adaptasi dari Transgression-Related Interpesonal Motivation-18 (TRIM-18) yang dikembangkan oleh McCullough, Root, dan Cohen dan adaptasi dari Ryff’s Psychological Well-Being Scale yang kembangkan oleh Ryff. Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,525 dengan nilai p = 0,00 (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi negatif dikarenakan variabel memaafkan berada pada kategori skor rendah dan variabel kesejahteraan psikologis berada pada kategori skor tinggi. Rendahnya skor pada variabel memaafkan menunjukkan semakin tinggi tingkat memaafkan individu. Hipotesis yang diajukan diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Hal ini mengindikasikan semakin tinggi tingkat memaafkan pada wanita yang bercerai maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat memaafkan wanita bercerai berada pada kategori tinggi dan memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi pula. Kata kunci: Memaafkan, Kesejahteraan Psikologis, Wanita, Perceraian ABSTRAK Perceraian berdampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan wanita yang bercerai. Masalah-masalah yang terjadi setelah perceraian memengaruhi kondisi kesejahteraan psikologis wanita yang bercerai sehingga perlu suatu tindakan yang dapat mengatasi penderitaan dan penyembuhan secara psikologis, yaitu melalui memaafkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 266 wanita bercerai yang berusia 23-40 tahun yang tinggal di Aceh. Alat ukur yang digunakan adalah adaptasi dari Transgression-Related Interpesonal Motivation-18 (TRIM-18) yang dikembangkan oleh McCullough, Root, dan Cohen dan adaptasi dari Ryff’s Psychological Well-Being Scale yang kembangkan oleh Ryff. Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,525 dengan nilai p = 0,00 (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi negatif dikarenakan variabel memaafkan berada pada kategori skor rendah dan variabel kesejahteraan psikologis berada pada kategori skor tinggi. Rendahnya skor pada variabel memaafkan menunjukkan semakin tinggi tingkat memaafkan individu. Hipotesis yang diajukan diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Hal ini mengindikasikan semakin tinggi tingkat memaafkan pada wanita yang bercerai maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat memaafkan wanita bercerai berada pada kategori tinggi dan memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi pula. Kata kunci: Memaafkan, Kesejahteraan Psikologis, Wanita, Perceraian ABSTRAK Perceraian berdampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan wanita yang bercerai. Masalah-masalah yang terjadi setelah perceraian memengaruhi kondisi kesejahteraan psikologis wanita yang bercerai sehingga perlu suatu tindakan yang dapat mengatasi penderitaan dan penyembuhan secara psikologis, yaitu melalui memaafkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 266 wanita bercerai yang berusia 23-40 tahun yang tinggal di Aceh. Alat ukur yang digunakan adalah adaptasi dari Transgression-Related Interpesonal Motivation-18 (TRIM-18) yang dikembangkan oleh McCullough, Root, dan Cohen dan adaptasi dari Ryff’s Psychological Well-Being Scale yang kembangkan oleh Ryff. Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,525 dengan nilai p = 0,00 (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi negatif dikarenakan variabel memaafkan berada pada kategori skor rendah dan variabel kesejahteraan psikologis berada pada kategori skor tinggi. Rendahnya skor pada variabel memaafkan menunjukkan semakin tinggi tingkat memaafkan individu. Hipotesis yang diajukan diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Hal ini mengindikasikan semakin tinggi tingkat memaafkan pada wanita yang bercerai maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat memaafkan wanita bercerai berada pada kategori tinggi dan memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi pula. Kata kunci: Memaafkan, Kesejahteraan Psikologis, Wanita, Perceraian ABSTRAK Perceraian berdampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan wanita yang bercerai. Masalah-masalah yang terjadi setelah perceraian memengaruhi kondisi kesejahteraan psikologis wanita yang bercerai sehingga perlu suatu tindakan yang dapat mengatasi penderitaan dan penyembuhan secara psikologis, yaitu melalui memaafkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 266 wanita bercerai yang berusia 23-40 tahun yang tinggal di Aceh. Alat ukur yang digunakan adalah adaptasi dari Transgression-Related Interpesonal Motivation-18 (TRIM-18) yang dikembangkan oleh McCullough, Root, dan Cohen dan adaptasi dari Ryff’s Psychological Well-Being Scale yang kembangkan oleh Ryff. Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,525 dengan nilai p = 0,00 (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi negatif dikarenakan variabel memaafkan berada pada kategori skor rendah dan variabel kesejahteraan psikologis berada pada kategori skor tinggi. Rendahnya skor pada variabel memaafkan menunjukkan semakin tinggi tingkat memaafkan individu. Hipotesis yang diajukan diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara memaafkan dengan kesejahteraan psikologis pada wanita yang bercerai. Hal ini mengindikasikan semakin tinggi tingkat memaafkan pada wanita yang bercerai maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat memaafkan wanita bercerai berada pada kategori tinggi dan memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi pula. Kata kunci: Memaafkan, Kesejahteraan Psikologis, Wanita, Perceraian

Tempat Terbit
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan isi formulir online (Formulir Online)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

DINAMIKA MEMAAFKAN PADA REMAJA YANG ORANG TUANYA BERCERAI DI KOTA BANDA ACEH (Silfana Amalia Nasri, 2014)

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN ENTREPRENEUR WANITA MISKIN BERBASIS KINERJA STUDI KASUS PADA KSM KOTA BANDA ACEH (Mikraj, 2017)

KEBERSYUKURAN DAN KEBAHAGIAAN PADA WANITA YANG BERCERAI DI ACEH (Dian Eriyanda S, 2016)

PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DENGAN PEKERJAAN YANG BERMAKNA SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA KANTOR TVRI BANDA ACEH (Maya Ariska, 2016)

HUBUNGAN DISFUNGSI SEKSUAL PADA WANITA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN TINGKAT PENGONTROLAN GLUKOSADARAH (Yenny Fitrika, 2014)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy