//

STUDI KETERKAITAN SOSIO-DEMOGRAFI PEMILIK DAN SOSIO-EKOLOGI ANJING DENGAN PENINGKATAN KASUS GIGITAN BERPOTENSI RABIES DI KABUPATEN BENER MERIAH

BACA FULL TEXT ABSTRAK Pemesanan Versi cetak
Pengarang Agus Nurza Zulkarnain - Personal Name

Abstrak/Catatan

Rabies menjadi salah satu ancaman kesehatan serius di lingkungan masyarakat, baik di negara maju maupun negara berkembang. Keberadaan anjing yang berpotensi rabies dapat menimbulkan permasalahan serius bagi kesehatan manusia, permasalahan sosial, kesejahteraan ekonomi, politik dan antar hewan. Perilaku anjing sangat berkaitan dengan interaksi hewan tersebut dengan pemilik atau korban gigitannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh karakteristik sosio-demografi pemilik dan sosio-ekologi anjing terhadap peningkatan kasus gigitan anjing di Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini adalah penelitian dalam bentuk pendekatan survei dengan studi cross-sectional. Sampel dipilih dengan pendekatan tahapan ganda dan secara purposive sampling. Besar sampel yang diambil sebanyak 100 responden yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap sejumlah responden terpilih dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian diperoleh sejumlah responden pemilik anjing pemburu di Kabupaten Bener Meriah 67 orang dan pemilik anjing non-pemburu sebanyak 33 orang. Karakteristik Sosio-demografi pemilik anjing pemburu dan non-pemburu di Kabupaten Bener Meriah berbeda dalam hal usia, tingkat pendidikan, suku, pekerjaan dan tingkat penghasilan. Berdasarkan hasil analisa keterkaitan faktor risiko dan kasus gigitan diperoleh bahwa pemilik yang langsung memberikan makanan tanpa alas (tempat pakan) mempunyai risiko yang signifikan (10,25) terhadap tingginya kasus gigitan dengan nilai OR = 10,25 (CI = 1,85 – 56,74) (P < 0,05). Rasio kemungkinan kasus gigitan terhadap pemilik yang tidak melakukan vaksinasi anjing sebesar 12,43 kali lebih besar terhadap tingginya kasus gigitan dengan nilai OR = 12,43 (CI = 1,2 – 128,66) (P < 0,05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan risiko gigitan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan memberi makan anjing tanpa alas (tempat pakan) dan tidak melakukan vaksinasi.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa karakteristik sosio-demografi pemilik anjing pemburu dan non-pemburu di Kabupaten Bener Meriah berbeda dalam hal usia, tingkat pendidikan, suku, pekerjaan dan tingkat penghasilan. Sebagian besar pemilik anjing pemburu (59,7%) dan non-pemburu (72,7%) memelihara anjing dengan cara dibiarkan lepas. Peningkatan risiko gigitan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan memberi makan anjing tanpa alas (tempat pakan) dan tidak melakukan vaksinasi.

Tempat Terbit
Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan isi formulir online (Formulir Online)

Share Social Media

Tulisan yang Relevan

KAJIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN PEMILIK DALAM MEWASPADAI GIGITAN ANJING HEWAN PENULAR RABIES (HPR) DI EMPAT KECAMATAN KOTA JAMBI (Hardianti Purnama Sari, 2015)

PERBEDAAN PENYAMPAIAN INFORMASI ANTARA MEDIA LEAFLET DAN PENYULUHAN TERHADAP KEWASPADAAN GIGITAN ANJING PENULAR RABIES PADA SISWA SMP DI KABUPATEN BENER MERIAH (WILDA HANIFA, 2018)

PERKIRAAN POTENSI GIGITAN ANJING DAN TINGKAT KESADARAN DENGAN PARTISIPASI PEMILIK TERHADAP PENGENDALIAN RABIES DI KECAMATAN PADANG GANTING (Taufikah Rahmah, 2016)

KAJIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT RABIES DI KECAMATAN KUTA PANJANG KABUPATEN GAYO LUES (Saiful, 2018)

PERAN BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK DI KABUPATEN BENER MERIAH DALAM MENGATASI KASUS TINDAK KEKERASAN TERHADAP ANAK TAHUN 2011 - 2014 (ADELIA SYAHFITRI HASIBUAN, 2015)

  Kembali ke sebelumnya

Pencarian

Advance



Jenis Akses


Tahun Terbit

   

Program Studi

   

© UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala 2015     |     Privacy Policy