Search :
Advance

TEUKU ZULFADHLI. STUDI CROSS-SECTIONAL DISTRIBUSI BRUCELLOSIS PADA TERNAK SAPI BANTUAN MILIK KELOMPOK TANI DI KABUPATEN ACEH BESAR DAN KABUPATEN ACEH JAYA. Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala, 2015

Abstrak

Penelitian epidemiologi penyakit brucellosis telah dilakukan pada kelompok tani-ternak yang menerima bantuan ternak sapi dari pemerintah yang melakukan pengadaan ternak secara mandiri (BANSOS) dan melalui kontraktor pengadaan ternak (APBA) di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Jaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan penyakit brucellosis pada sapi bantuan pemerintah di kedua kelompok tersebut. Kajian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi observasi secara cross sectional. Pemilihan sampel kelompok ternak dan kontraktor pengadaan ternak (pihak ketiga) menggunakan pendekatan purposive sampling (cuplikan disengaja). Ternak sapi yang dijadikan sebagai sampel dipilih secara acak di setiap kelompok. Penentuan status infeksi brucellosis dilakukan dengan mengumpulkan sampel serum darah sapi yang selanjutnya diuji dengan metoda RBT di Laboratorium Veteriner Tipe B Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh. Kemudian dilanjutkan dengan uji CFT di laboratorium Tipe A Balitvet, Bogor. Selain itu terhadap masing-masing pengelola kelompok ternak dan kontraktor dilakukan wawancara dengan pengisian kuesioner yang terstruktur. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh sejumlah 293 sampel serum dari 6 kelompok BANSOS (206 sampel) dan 6 kelompok APBA (87 sampel). Hasil uji RBT menunjukan bahwa tingkat seroprevalensi keseluruhan sekitar 15,4%. Secara khusus pada kelompok BANSOS ditemukan positif RBT sebesar 18,9% dan bereaksi posirif dengan CFT 71,8%, sedangkan pada kelompok APBA didapati hasil uji positif RBT sebesar 6,9% dan bereaksi positif dengan CFT 16,7%. Secara umum terlihat bahwa sebagian besar ternak sapi yang terinfeksi brucellosis adalah ternak betina, baik pada kelompok BANSOS (15%) maupun pada kelompok APBA. Demikian juga persentase ternak yang tergolong reaktor positif lebih banyak pada sapi betina yaitu 51.3% pada kelompok BANSOS dan 16.7% pada kelompok APBA. Selanjutnya jika dilihat berdasarkan umur diketahui bahwa pada kelompok BANSOS ternak yang terifeksi terutama berusia diatas 1 tahun (71,8%), sedangkan di kelompok APBA ternak yang terinfeksi berumur dibawah 1 tahun (16,79%). Dari hasil analisis kuesioner terlihat bahwa faktor risiko yang dinilai terkait penyebaran brucellosis, adalah sistim pemeliharaan, pencampuran ternak, pengetahuan peternak dan pencegahan penyakit. Kata kunci: brucellosis, kelompok ternak, bantuan, faktor risiko, sapi

Pengarang tidak dapat memberikan Full Text secara langsung, untuk mendapatkan full text silahkan mengisi Form LSS di bawah.

Literature Searching Service


Tulisan yang relevan

SIKAP DAN PERILAKU PETERNAK SAPI ACEH DALAM UPAYA PENGENDALIAN BRUCELLOSIS DI LEMBAH SEULAWAH ACEH BESAR (AFNAN, 2016) ,   Baca Full Text... |  Abstrak..

IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI PARASIT GASTROINTESTINAL TERNAK SAPI BERDASARKAN POLA PEMELIHARAAN DI KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR (Cut desta morica, 2016) ,   Baca Full Text... |  Abstrak..

ANALISIS PENDAPATAN USAHA TERNAK SAPI ACEH RNDI DESA PAGAR AIR KECAMATAN INGIN JAYA RNKABUPATEN ACEH BESAR (Zulkaini, 2014) ,   Baca Full Text... |  Abstrak..

ETNOBOTANI TUMBUHAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA OLEH MASYARAKAT KABUPATEN ACEH BESAR (Maisaraty, 2015) ,   Baca Full Text... |  Abstrak..

KINERJA BERAHI PADA SAPI ACEH YANG MENGALAMI KAWIN BERULANG (Raihatul Jannah, 2017) ,   Baca Full Text... |  Abstrak..

Kembali ke halaman sebelumnya